Search Intent: Pengertian, Jenis-Jenis, dan Cara Optimasinya

Search intent dikenal juga dengan audience intent maupun user intent. Istilah ini merujuk pada tujuan dari pengguna mesin pencari, terutama Google.

Sejatinya memang tak ada yang bisa menebak keinginan pengguna mesin pencari itu. Namun memahami search intent adalah sebuah upaya menuju kesana.

Apalagi dalam beberapa pembaruan algoritma Google sejak Hummingbird, Rankbrain, hingga yang terakhir BERT, selalu menekankan pada perbaikan semantik dan machine learning.

Pembaruan terhadap algoritma ini membuat keyword stuffing yang pernah dilakukan oleh pegiat SEO zaman dulu sudah tak lagi relevan.

Untuk lebih jelasnya, mari kita intip seperti apa search intent ini.

Pengertian Search Intent

Search intent adalah sebuah alasan mengapa seseorang melakukan pencarian. Search intent berupaya menebak kehendak seseorang dari search query yang diketiknya.

Anda tentu paham perbedaan search query dengan keyword, bukan?

Kalau belum paham, saya sedikit menyinggungnya disini.

Search query merupakan kata yang dimasukkan oleh pengguna didalam kolom pencarian. Biasanya terdiri dari berbagai macam kata kunci atau keyword.

Search query dipergunakan oleh pengguna. Hasilnya berupa search engine result page (SERP).

Sementara keyword adalah susunan kata yang membentuk sebuah konten. Ia dipergunakan oleh pembuat konten untuk membuat artikel. Hasilnya, ya konten-konten halaman blog Anda.

Nah, search intent ini merupakan sebuah upaya untuk memahami maksud dari search query yang digunakan oleh pengguna mesin pencari.

Sebagai contoh, saya sajikan beberapa search query berikut ini.

apa itu hostingsejarah instagram
sahabat hostinginstagram login
beli domainjasa like ig
hosting a vs hosting binstagram vs snapchat

Kedelapan search query itu jika dijadikan keyword maka bakal membentuk konten yang berbeda-beda. Namun pertanyaannya, seperti apakah konten yang dibuat agar bertemu dengan maksud pengguna search query itu?

Baca Juga:  Pengalaman Saya Migrasi Blogger ke Wordpress

Dan yang paling penting, apakah kita perlu mengambil search query itu dan menjadikannya keyword untuk artikel? Tunggu dulu.

Saya ambil salah satu saja dari kedelapan search intent diatas, misalnya instagram login. Saya mendapat data dari Ahrefs bahwa keyword “instagram login” memiliki volume pencarian 678 ribu perbulan. Besar sekali. Menggiurkan.

Bayangkan saja dulu, orang-orang mengetik “instagram login” itu untuk apa? Cari tahu pegertian “instagram login”? Pengin tahu caranya login di Instagram?

Kalau pengin tahu caranya login di Instagram, biasanya ketikkanny lebih lengkap, misalnya “cara login di instagram”.

Jadi, kalau cuma “instagram login”, biasanya dia malas untuk masuk ke website Instagram dengan mengetikkan www.instagram.com kemudian mencari-cari tombol login.

Bisa jadi juga, dia lupa domain Instagram, namun pengin banget login ke akun instagramnya. Dia ingatnya Instagram do net, misalnya. Ternyata salah. Makanya Google jadi solusi.

Jadi kalau Anda membuat konten dengan kata kunci “instagram login”, kira-kira pengguna bakal mengklik blog Anda, atau website-nya Instagram?

Jenis-Jenis Search Intent

Sebelum mengoptimalkan search intent, sebaiknya Anda berkenalan dulu dengan jenis-jenis search intent.

Jenis-jenis search intent ini dibagi kedalam empat jenis. Ada juga yang membaginya kedalam tiga jenis saja.

Ahrefs, MOZ, dan Semrush, membagi search intent kedalam empat jenis. Sementara Similiarweb membaginya kedalam tiga jenis.

Ahrefs:

  1. Informational
  2. Navigational
  3. Transactional
  4. Commercial Investigation

MOZ:

  1. Informational
  2. Navigational
  3. Transactional
  4. Preferential/Commercial Investigation

Semrush:

  1. Informational
  2. Navigational
  3. Transactional
  4. Commercial

Similiarweb

  1. Informational (do)
  2. Navigational (know)
  3. Transactional (go)

Sebetulnya meski ada sedikit perbedaan, bahkan beda jumlah, namun klasifikasi jenisnya nyaris sama saja.

Informational

Search intent dengan jenis informational ini merupakan search query yang diketikkan pengguna untuk mengetahui informasi terkait search query itu.

Biasanya search query-nya berbentuk pertanyaan. Namun tidak semua search intent informational berbentuk pertanyaan.

Baca Juga:  Mobile-First Indexing, Cara Baru Menentukan Page One Google

Contoh informational:

  • apa itu hosting?
  • dimana danau kelimutu
  • rute ke monas naik busway
  • cara memesan kopi di starbucks

Navigational

Pengguna yang mencari halaman website spesifik dari sebuah merek biasanya menggunakan search intent navigational. Mereka mungkin tahu mereknya, namun tidak mengetahui websitenya.

Misalnya ada pengguna yang tidak mengetahui situs Sahabat Hosting. Maka mereka menggunakan Google sebagai solusi, dan mengetikkan search intent navigational ini.

Contoh navigational:

  • login facebook
  • eform bantuan umkm
  • sscasn bkn
  • sahabat hosting

Transactional

Search intent transactional ini biasanya dipergunakan oleh pengguna mesin pencari untuk melakukan konversi. Biasanya mereka sudah memilih sesuatu, dan bakal melakukan pembelian lewat mesin pencari.

Pengguna search intent jenis ini biasanya tidak membutuhkan lagi informasi dan riset. Sehingga mereka datang hanya untuk satu tujuan: konversi.

Contoh transactional:

  • tiket kereta
  • baju diskon tahun baru
  • harga hp samsung a72
  • beli laptop asus br1100

Commercial

Yang satu ini sebetulnya agak mirip dengan transactional, namun biasanya belum mendapatkan keputusan final. Sehingga masih membutuhkan pertimbangan lanjutan.

Untuk itulah search intent commercial atau commercial investigation ini dimasukkan dan dipisahkan dari transactional.

Contoh commercial:

  • ulasan sahabat hosting
  • samsung tab s7 plus vs xiaomi pad 5
  • tempat ngopi paling enak di jakarta
  • laptop terbaik 10 jutaan

Optimasi Search Intent

Jika mampu mengoptimalkan search intent, maka traffic blog Anda berpotensi meningkat. Ahrefs mencatat pengguna yang mengoptimalkan search intent mengalami peningkatan 677% dalam waktu 6 bulan.

Karena jenis search intent juga berbeda-beda, maka cara optimasinya juga tidak sama. Orang yang hanya mencari informasi dengan orang yang akan melakukan pembelian tentu tak sama.

Yang perlu dicatat sebelum memulai optimasi search intent adalah blog Anda sudah selesai dengan urusan SEO on page maupun off page. Atau setidaknya Anda sedang mengembangkan hal tersebut.

Baca Juga:  Cara Cek DA PA dan Hubungannya dengan Posisi SERP

Sehingga Anda hanya perlu memikirkan cara optimasi search intent, seperti berikut ini:

Optimasi copywriting dan halaman landing

Search intent, terutama jenis transactional, butuh optimalisasi pada kalimat-kalimat yang dipergunakan. Berikan pembaca copywriting terbaik Anda.

Arahkan pembaca untuk mengetahui manfaat dan keunggulan dari produk yang ditawarkan. Sisipkan gambar yang memperjelasnya. Buatlah gambaran produk yang membangkitkan emosi agar pembaca tertarik dengan yang ditawarkan.

Dan terakhir tutuplah dengan CTA yang jelas agar berdampak konversi.

Hal ini jangan pula hanya dilakukan untuk keyword transactional, namun pembuatan copywriting yang bagus dan halaman landas yang nyaman juga penting diterapkan untuk menarget seluruh search intent.

Namun begitu, sebagus apapun copywriting dan SEO Anda, ketika search intent yang Anda target adalah navigational, ya tetap saja tak banyak memberikan traffic pada blog.

Riset kompetitor

Ada yang bilang selain search intent jenis navigational, Anda juga mesti mengurangi pembuatan konten yang menargetkan search intent transactional.

Sebabnya sederhana, kalau kita memasukkan search query tentang intensitas transaksional, maka yang muncul biasanya rich result yang berasal dari marketplace. Ditambahi juga dibawahnya hasil pencarian dari berbagai marketplace juga.

Itu merupakan kompetitor yang biasanya sukar untuk dikalahkan. Karena mereka mendapat otoritas yang bagus di mata Google sebagai marketplace.

Apalagi ada faktor X, misalnya Anda sering mendapatkan paid sponsorship dari mereka dan memberikan backlink dofollow. Anda menjadi mesin backlink mereka, dan berharap mengalahkannya di SERP? Hmmmm…

Namun jika memaksa, ya bisa saja. Sebab boleh jadi Google memberikan blog Anda peluang untuk duduk di page one. Bahkan Anda mungkin mendapat traffic dari search intent navigational. Semuanya mungkin saja. Tapi hal ini lumayan jarang terjadi.

Oh iya, yang perlu diriset juga adalah soal keyword yang Anda bidik. Silakan analisis para penghuni page one. Selengkap apa kontennya. Sebanyak apa backlink penopangnya? Dan seterusnya.

Leave a Comment