Media Sosial

Tentang Watch Time dan Engagement YouTube dan Mengapa Channel Saya Tidak Berkembang

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang cukup populer bertanya: mengapa channel Youtube-nya tidak berkembang? Beliau memang sosok populer, tapi mengapa akun YouTube-nya masih belum banyak view dan subscriber?

Kepopuleran sosok yang bertanya lewat inbox fanpage dan kolom komentar di blog saya ini cukup bagus. Beliau lulusan Timur Tengah, menulis banyak buku, dan kerap mengisi kajian keagamaan. Ada beberapa buku karya beliau yang pernah saya baca. Namun ketika merambah dunia digital, rupanya kepopuleran beliau –menurut bahasa saya– masih belum menemukan momentum. Bagaimana ia menemukan momentumnya?

Sampai saat artikel ini terbit, channel YouTube beliau sudah memiliki 438 subscribers. Sejak dibuat pada 27 November 2018, di channel beliau sudah ada 41 video. Artinya kalau dirata-rata, dua hari sekali beliau mengunggah satu video di channel-nya. Sementara itu, channel tersebut mendapatkan 7 subscriber setiap harinya.

Saya pikir untuk channel yang baru berusia tiga bulan, pertumbuhan subscriber-nya cukup bagus. Mudah-mudahan ketika beliau konsisten mengunggah satu apalagi dua video setiap hari, pertumbuhannya bakal lebih pesat. Namun satu pertanyaan yang mengganjal bagi beliau adalah mengapa view-nya masih sedikit?

Pemikiran dan sikap orang lain tentu tidak bisa serta-merta disamakan dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Misalnya ketika beliau bertanya tentang view tersebut, saya sebetulnya ingin menjawabnya dengan sebutan kalau videonya kurang clickbait. Tapi membuat sebuah judul video dan thumbnail yang sedikit tricky bagi beliau (mungkin) merupakan hal yang syubhat (?).

Jadi saya bakal sedikit menguraikan jawaban mengapa view beliau sedikit padahal materi yang disampaikan di mayoritas videonya merupakan daging semua. Mudah-mudahan kita sama-sama belajar dari persoalan ini.

Sejak ada perubahan algoritma YouTube setahun belakangan ini, maka \’dewa\’ bagi rumus matematika komputer itu adalah engagement dan watch time. Engagement merupakan hasil perpaduan antara view dengan share dan perbincangan video tersebut di internet.

Soal engagement ini tidak mengenal sama sekali apakah itu positif atau negatif. Kedua penilaian ini sama saja memiliki saham terhadap peningkatan engagement. Misalnya ketika anda melakukan share di media sosial terhadap sebuah video YouTube, meskipun dengan komentar negatif, share itu tetap dihitung sebagai satu poin engagement.

Watch time lalu dipakai sebagai rumusan kedua. Watch time ini sedikit berbeda dengan view. Watch time mengacu pada durasi tonton dari seorang pengunjung video. Sementara view menghitung berapa kali link video itu dikunjungi.

Maka bisa dipahami kalau video yang awet berada di trending YouTube atau video yang kemudian direkomendasikan oleh YouTube kepada anda merupakan video-video yang memiliki engagement dan watch time bagus.

YouTube tidak memiliki algoritma untuk menjawab apakah video itu mampu mengedukasi penonton secara positif atau tidak. Dua rumusan diatas itulah yang menentukan viralnya sebuah video di YouTube.

Sedikitnya view dan watch time yang dialami oleh sang penanya diatas sebetulnya menjadi \’masalah\’ umum yang dialami YouTuber lainnya. Sebab video-video positif yang mereka miliki juga \’dilemahkan\’ oleh algoritma YouTube yang seperti ini.

Tapi ya bukan salah YouTube juga sih. Soalnya \’kan YouTube hanya menghitung berdasarkan engagement dan watch time saja, dan kedua hal ini sumbernya dari pengunjung. Jadi siapa yang salah kalau video berkonten negatif selalu nangkring di trending?

Tentu saja salah anda! Anda yang memberikan engagement dan watch time terus-menerus kepada video tersebut. Anda yang membagikannya di media sosial, dengan alasan mewaspadai lah, memberikan kritik lah, bahkan cuma alasan lucu-lucuan.

Jadi semoga bisa dipahami mengapa sebuah channel bisa melejit begitu pesat, dan mengapa juga ada channel yang perkembangannya kurang bagus. Anda tinggal melihatnya di trending saja. Video yang disukai di regional tertentu akan senantiasa berada di trending.

Untuk itulah kalau mau video-nya dilihat banyak orang, tinggal mengikuti kemauan pengunjung YouTube saja. Ya, tinggal melihat trending, kemudian mengikuti trend yang ada disana. Lalu, boom!

Kabar baiknya, konten positif yang ada di video anda, termasuk sang penanya diatas, tetap memiliki peminatnya sendiri. Asal sabar, konsisten, terus meningkatkan skill di YouTube, dan terus mengenalkan channel di aset media sosial yang dimiliki, channel tersebut bakal menemukan momentumnya. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

AdBlock Terdeteksi

Mohon matikan aplikasi/fitur AdBlock di ponsel Anda untuk melanjutkan.