Mengulik Terlemparnya Asus dari 5 Besar Merek Smartphone di Indonesia

Pada kuartal akhir 2017, International Data Corporation (IDC) merilis data market share smartphone sebagaimana biasanya. Yang tidak biasa, justru terlemparnya beberapa merek smartphone yang pernah bercokol di lima besar, termasuk Asus.

Sebagai pengguna Asus, informasi ini cukup mengejutkan. Asus memang tak sendiri, bersama Lenovo dan Smartfren, pabrikan Taiwan ini terlempar entah di posisi berapa. Sebab ia digolongkan dalam data IDC sebagai \’others\’. Yang artinya, market share Asus berada di bawah 6,2 persen di Indonesia.

Lima besar merek smartphone versi IDC masih ditempati oleh Samsung di posisi pertama dengan 30,0%, disusul kemudian Oppo dengan 25,5%, Advan 8,3%, Vivo 7,5%, dan Xiaomi 6,2%. Sementara semua merek diluar itu digabungkan kedalam \’others\’ dengan angka 22,5%.

Pertanyaannya, mengapa Asus bisa terlempar? Padahal menurut data yang dirilis oleh IDC pada Februari 2016, kuartal IV 2015 Asus berhasil menjadi nomor satu dengan market share sebesar 21,9% mengungguli Samsung yang berada di angka 19,7%. Dan pertumbuhan market share Asus pun paling besar saat itu, yakni 127,5% dari tahun 2014 hingga 2015. Dan jawaban mengapa Asus bisa terlempar ada dua jenis, pertama faktor eksternal dan kedua faktor internal.


Faktor Eksternal

Faktor eksternal ini memang diluar Samsung yang masih digdaya selama tiga tahun terakhir. Pasalnya kehadiran ponsel asal China memang mengubah peta persaingan pasar smartphone di Indonesia. Apalagi semuanya tahu betapa agresifnya Oppo dan Vivo di lapangan. Mereka berani jor-joran menyasar calon konsumen dengan strategi pemasaran yang terbilang kuno. Sebuah metode yang kuno, kalau berhasil ya tetap akan terus dipertahankan. Misalnya menyebarkan brosur di pinggir jalan dengan menari-nari agar menarik perhatian. Begitulah Oppo dan Vivo.

Bahkan untuk Vivo sendiri, peluncuran Vivo V7+ terbilang cukup berani. Pasalnya blocking delapan stasiun televisi nasional dilakukannya demi sebuah ponsel yang harga dan spesifikasinya terbilang cukup ya begitulah. Tapi apapun cibiran netizen, kenyataannya kedua ponsel asal China ini mampu menemani Samsung di lima besar.

Untuk Advan, saya sendiri cukup kaget sebab pabrikan lokal ini mampu mengungguli Vivo. Mungkin karena Advan mampu melakukan inovasi, seperti ekosistem sistem operasi IDOS, fitur keamanan Xlocker dan Privacy Protector. Sehingga banyak orang ingin mencoba-coba kecanggihan ponsel yang dibuat di Kawasan Candi Semarang ini.

Sementara itu, Xiaomi berhasil menyodok lima besar karena strateginya menyasar pasar offline. Pendirian outlet-outlet Xiaomi di Indonesia dengan bekerjasama dengan peritel ponsel berimbas positif pada raihan market share yang didata oleh IDC.

Faktor Internal

Salah satu penyebab mengapa Asus kurang bergairah di pasar Indonesia, bahkan dunia, mungkin disebabkan aspek penamaan yang absurd. Pada tahun 2014, saya menggunakan Asus Zenfone 5 setelah era BlackBerry usai. Setahun kemudian, giliran Asus Zenfone Max menggantikannya sebagai daily-driver saya. Pada kuartal keempat tahun 2017, ada yang menawari Asus Zenfone 4 Max Pro, dan saya pun menyambutnya.

Asus Zenfone 4 sebetulnya telah dirilis Asus sejak Januari 2014 bersamaan dengan Asus Zenfone 5 dan Asus Zenfone 6. Setelah itu, Asus memundurkan lagi penghitungannya dengan merilis seri Zenfone 2 pada Maret 2015. Seri ini cukup banyak dipuji karena desainnya yang keren dan unik.

Dari Zenfone 2, Asus pun merilis Zenfone 3 pada 2016 dan Zenfone 4 pada 2017. Tampaknya keabsurdan itu ingin dihapus sejak Zenfone 2 dirilis. Sayangnya, saat jelang perilisan Zenfone 3, Asus sudah kehilangan market share.

Menurut saya ada satu momentum dimana Asus kehilangan market share-nya. Saat penggunanya banyak berpindah ke ponsel lain demi sebuah game. Tentu anda masih ingat dengan game yang satu ini. Ya, Pokemon Go!

Game ini cukup memukul Asus karena kompatibiltas chipset Intel yang tidak mendukungnya. Saat game ini berada di puncak hype, Asus tak bisa mengambil bagian di dalamnya. Smartphone dengan chipset Intel banyak dijadikan bahan bully di internet, termasuk Asus. Dan ketika Pokemon Go! sudah menyesuaikan infratsrukturnya untuk kompatibel dengan chipset Intel, semuanya sudah terlambat. Orang-orang sudah mencicipi ponsel yang lain. Mereka selingkuh, dan nyaman dengan yang lain.

Hype Pokemon Go! memang usai, tapi Asus juga membutuhkan waktu untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Untuk itulah Zenfone 3 diluncurkan dengan memboyong seluruh serinya, mulai dari yang paling murah, hingga yang paling mahal. Sayangnya, pangsa pasar Indonesia masih berada di level-entry. Seri Zenfone 3 belum begitu dilirik oleh mereka yang sudah masuk middle-level. Kelompok ini lebih memilih merek Samsung.

Untuk mengembalikan kejayaan, siapapun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ini termasuk Asus juga. Untuk itulah, perlu recovery besar-besaran terhadap strategi yang diterapkan oleh Asus saat ini. Kalau menirukan strategi lapangan persis Vivo dan Oppo, agaknya bakal menurunkan citra Asus yang di kelompok pengguna komputer masih disegani. Tapi tentu tak ada salahnya dicoba dengan memperbanyak sentuhan di tingkat bawah untuk lebih mengenalkan produk-produk terbarunya.

Sebab kalau Asus salah strategi, alih-alih kejayaan kembali, bukan tak mungkin yang didapat justru hengkangnya pabrikan Taiwan ini dari tanah air akibat gagal bersaing.

ARTIKEL TERKAIT

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here