Uncategorized

Lima Kesalahan Awal Dalam Membuat Blog Pribadi

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh para pembuat blog saat pertama kali membuatnya. Sebenarnya bukan salah yang mutlak, tapi sebaiknya memang hal-hal semacam itu tak perlu dilakukan agar blog tersebut bisa ramah pengunjung dan memunculkan banyak traffic. Kesalahannya boleh jadi di awal ketika blog itu dibuat, atau sudah lama dibuat tapi hal-hal tersebut masih dipertahankan. Apa saja lima hal tersebut? Simak poin-poinnya berikut ini.

1. Tidak ada social sharing

Mungkin ada yang beranggapan bahwa konten itu bersifat privasi, sehingga tak layak disebarkan di mana-mana. Untuk blogger macam ini, mungkin tak akan ditemukan satu tombol share, like, twit, atau social media lainnya pada setiap artikelnya. Mungkin anggapannya, ketika konten yang disiarkannya di internet hanya cukup dibaca oleh dirinya sendiri. Atau jangan-jangan dia lupa, bahkan tidak tahu dimana tombol-tombol tersebut berada untuk mengaktifkannya.

Template dasar blogger maupun wordpress untungnya sudah dipersiapkan untuk tombol-tombol social sharing. Sehingga pembaca bisa membagikannya kepada orang lain melalui tombol tersebut dan membagikannya ke social media asset mereka.

2. Tidak ada foto sang Blogger

Tak ada maksud untuk bernarsis ria. Tapi ada yang menganggap bahwa menjadi blogger itu merupakan upaya membangun sebuah media online. Tidak salah, namun kurang tepat. Serius, untuk menyaingi media online yang sudah mapan kita bakal kewalahan. Keutamaan blog adalah merupakan media personal dimana bahasa dan bahasannya bersifat pribadi. Sehingga, tak perlu membuat brand tersendiri untuk blog kita. Kita adalah brand tersebut. Untuk itulah ada bahasa \’social media asset\’ karena media sosial yang kita miliki merupakan aset kita untuk melejitkan blog tersebut. Untuk mengukur seberapa berpengaruh kita atas social media yang dimiliki, lihat skornya di Klout.

Untuk itu, ada baiknya memunculkan wajah sendiri di blog yang dimiliki, alih-alih memunculkan logo layaknya perusahaan. Ini upaya kita untuk membuat personal branding.

3. Komentar yang dimoderasi

Jujur saja sih, kalau saya mengomentari blog orang lain kemudian muncul pemberitahuan \’Your comment will be visible after approval\’, itu semacam wujud ketidakpercayaan. Saya seperti dianggap pembawa spam, sementara Blogger maupun Wordpress sudah menyediakan filter spam di dalamnya. Padahal memoderasi komentar dengan mengecek komentar yang sudah muncul pun sama-sama butuh waktu. Sementara saya sendiri, ingin agar komentar yang ditaruh saat blogwalking segera terlihat saat itu juga.

Nah, sebaiknya komentar itu dibuat otomatis diterima saja. Kita sedang membangun komunitas, dimana ada begitu banyak orang yang berbicara dan mengomentari konten yang kita tulis. Bayangkan saja, ketika kita berbicara dengan orang lain, lalu kita bilang \’sebentar, ya, perkataanmu saya saring dulu\’.

4. Konten yang tidak personal

Saya pernah punya blog tentang film, traffic-nya pernah mencapai 2000 per hari. Tapi lambat laun, ah, saya kog jadi mirip tukang promo bioskop, alih-alih jadi blogger. Meski itu saya lakukan dengan senang hati, tapi lambat laun ada sedikit rasa lelah yang hinggap. Saya memang suka film, tapi ya sebatas suka. Makanya blog itu saya lepas pelan-pelan, tapi tidak saya tinggalkan.

Membuat blog sepatutnya mempersonalisasikan diri kita. Kita bisanya apa? Tulis saja di blog. Karena percuma dong kalau susah-susah menulis sesuatu, mendongkrak traffic-nya, lalu setelah itu, apa? Nah, kalau review gadget, misalnya, sambungkan dengan link affiliasi kita. Jadi konten itu nggak terputus setelah kita unggah. Kita yang bertanggung jawab atas konten tersebut. Konten adalah kita. Halaaah.

5. Membuat media sosial yang misterius

\”Saya adalah warga negara dunia ini.\” Pernah menemukan bio semacam ini di Twitter maupun Facebook, atau di media sosial yang lain? Iya, saya tahu maksudnya, tapi hal semacam itu tidak spesifik. Semua orang adalah warga negara dunia ini. We are citizen of the world. Tapi dunia yang sebelah mana?

Jadikan biografi kita di media sosial merupakan penanda (awas saya tandai kamu *terSonya*) buat Blogger. Misalnya I am a tech geek, ketika blogger tersebut punya blog dengan tema teknologi maupun gadget. Lokasi kita pun mesti jelas, meski jangan jelas-jelas sekali sampai ke alamat detil. Nah, terakhir, sambungkan media sosial dengan link blog kita. Eh, kabarnya untuk ceklis biru Twitter alias yang terverifikasi memang harus seperti itu. Sesiapa yang banyak sumber link Twitter yang berasal dari blognya, atau sebaliknya, maka tinggal menunggu saja ceklis biru itu bakal mampir ke akun Twitter kita. Jadi, nggak usah sok-sok anonim, kecuali untuk stalking mantan.

Nah, lima hal itu memang boleh jadi bukan sebuah kekeliruan. Karena tujuan blogging masing-masing orang tentu saja sangat berbeda. Tapi, lima hal itu bisa jadi langkah awal untuk membuat sebuah personal branding bagi diri kita di jagat maya. Silakan dicoba.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

AdBlock Terdeteksi

Mohon matikan aplikasi/fitur AdBlock di ponsel Anda untuk melanjutkan.